Wamentan Alim sebut Inovasi dan SDM Unggul Jadi Kunci Menjaga Keberlanjutan Swasembada Pangan

SENATORNEWS.ID, Tangerang, — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa inovasi unggul dan sumber daya manusia (SDM) berkualitas menjadi dua faktor utama dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.

Di tengah perubahan iklim, perkembangan teknologi, dinamika rantai pasok global, hingga ketidakpastian geopolitik, Indonesia membutuhkan sektor pertanian yang semakin adaptif, modern, dan didukung generasi muda yang kompeten.

Hal tersebut disampaikan Wamentan Alim di hadapan mahasiswa pada kegiatan Edu Tani di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (4/11). Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak mahasiswa untuk mempersiapkan diri menjadi generasi penerus pembangunan pertanian Indonesia.

Menurut Wamentan Alim, tantangan pangan global semakin kompleks dan mendorong berbagai negara memperkuat ketahanan pangannya. Bahkan, berdasarkan informasi yang disampaikannya, terdapat 33 negara yang tengah menyiapkan stok darurat pangan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi krisis pangan.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia patut bersyukur karena telah mencapai swasembada pangan dengan ketersediaan stok yang cukup, terutama untuk delapan komoditas pangan strategis. Namun, capaian tersebut harus terus dijaga agar tidak hanya menjadi keberhasilan sesaat, melainkan berkelanjutan dalam jangka panjang.

“Kita saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan iklim semakin terasa, perkembangan teknologi semakin cepat, rantai pasok global semakin dinamis, dan situasi geopolitik terus berubah. Karena itu, kita harus terus menjaga swasembada agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu mewujudkan kedaulatan pangan,” ujar Wamentan Alim.

Ia menjelaskan, faktor pertama yang menentukan keberlanjutan swasembada adalah inovasi unggul. Riset dan pengembangan teknologi dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, termasuk BRIN dan unit riset di lingkungan Kementerian Pertanian, perlu terus diperkuat untuk menghasilkan terobosan yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Inovasi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan varietas unggul, penerapan mekanisasi, serta teknologi budidaya yang semakin efisien. Dengan demikian, petani dapat menghasilkan produksi lebih optimal dengan penggunaan input yang lebih hemat.

“Melalui inovasi, kita ingin mencapai output yang maksimal, tetapi pada saat yang sama mampu menekan input agar lebih efisien. Ini yang menjadi salah satu penentu produktivitas dan daya saing pertanian kita,” jelasnya.

Faktor kedua, lanjut Wamentan Alim, adalah SDM unggul. Menurutnya, kemajuan teknologi dan inovasi tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa didukung manusia yang memiliki kapasitas, karakter, serta kemampuan untuk mengimplementasikannya. Terlebih, sektor pertanian juga menghadapi tantangan regenerasi petani yang membutuhkan keterlibatan generasi muda.

Secara khusus, Wamentan Alim mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi untuk mengembangkan empat kualitas utama yang ia sebut sebagai 4K, yakni karakter, kompetensi, kontribusi, dan kesehatan.

Karakter, menurut Wamentan Alim menekankan bahwa integritas, disiplin, tanggung jawab, dan komitmen merupakan modal utama dalam membangun kesuksesan. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan akademik perlu berjalan seiring dengan adab dan karakter yang kuat.

“Bung Karno pernah mengatakan character before knowledge. Dalam agama Islam juga dikenal adab qobla ilmu. Artinya, karakter dan adab harus didahulukan. Ketika seseorang kehilangan uang, ia tidak kehilangan segalanya. Ketika kehilangan kesehatan, ia kehilangan sesuatu. Tetapi ketika kehilangan karakter, ia kehilangan segalanya,” ungkapnya.

Secara kompetensi, Wamentan Alim mendorong mahasiswa perlu terus mengasah kemampuan, baik hard skill maupun soft skill, agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kemampuan berpikir kreatif, berinovasi, berkomunikasi, bernegosiasi, berkolaborasi, kepemimpinan, hingga kewirausahaan menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari indeks prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan menerapkan pengetahuan dan membangun kapasitas diri.

“Tidak penting IPK 4,0 kalau tidak punya kemampuan berkomunikasi, negosiasi, kreativitas, dan sebagainya. Kompetensi itu penting. Karena itu, selama kuliah, asah terus kemampuan dan keterampilan yang akan menjadi bekal menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha,” pesannya.

Wamentan Alim mendorong mahasiswa untuk berkontribusi dengan memberikan manfaat dari lingkungan terkecil, baik melalui kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, maupun berbagai bentuk kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Ia mengutip prinsip khairunnas anfauhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Menurutnya, kualitas SDM juga tercermin dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Yang terakhir Wamentan Alim juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan dengan menjaga pola hidup sehat, termasuk mengatur waktu istirahat, menjaga pola makan, dan memperhatikan kondisi fisik. Kesehatan menjadi modal penting agar generasi muda mampu menjalankan aktivitas dan mengembangkan potensinya secara optimal.

“Jadi ada empat K untuk menjadi SDM unggul, yaitu karakter, kompetensi, kontribusi, dan kesehatan. Ini harus dipersiapkan sejak mahasiswa, bukan nanti setelah memasuki dunia kerja,” tegasnya.

Wamentan Alim berharap mahasiswa dan generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam transformasi pertanian Indonesia. Menurutnya, sektor pertanian membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, jiwa kewirausahaan, serta kepedulian untuk memberikan kontribusi nyata.

“Untuk pertanian Indonesia yang lebih maju dan modern, agar kita bisa terus menjaga swasembada, kita membutuhkan inovasi yang unggul dan SDM yang unggul,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *