.

JAKARTA, Senatornews.id — Kisah siswa SDN 478 Barowa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel ) yang harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan rakit terbuat dari gabus demi bisa ke sekolah karena jembatan penyeberangan rusak diterjang banjir mengundang perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras menilai, itu salah satu contoh ketidakpekaan pemerintah dalam memberikan akses infrastruktur yang layak bagi calon penerus bangsa.
“Anak-anak yang ingin merasakan dunia pendidikan harus menempuh jarak yang jauh untuk sampai ke sekolah. Kondisi jalanan yang mereka lalui berat, belum lagi harus menyeberangi sungai dengan moda transportasi yang tidak aman,” ujar legislator Dapil Sulsel II tersebut, dilansir dari laman dpr.go.id.
Iwan menyebut, kejadian seperti itu banyak juga ditemukan di daerah lain, termasuk di beberapa wilayah di Sulsel. Untuk itu, dia minta pemerintah memberi perhatian lebih. “Kejadian seperti di Luwu sebenarnya banyak terjadi. Di Sulsel juga banyak banget. Bahkan di Jawa Barat yang dekat dengan ibu kota negara juga banyak. Banyak wilayah-wilayah tertentu sebenarnya dapat dijangkau dalam waktu 5 menit, tapi menjadi 40 menit karena faktor tidak ada jembatan,” tuturnya.
Dia mendorong pemerintah memperbanyak fasilitas jembatan yang layak untuk mendukung aktivitas masyarakat, terutama bagi anak-anak yang kesulitan akses bersekolah. Menurut Iwan, salah satu aspek penting dalam memastikan pemberian pendidikan yang layak melalui pembangunan infrastruktur yang memadai. “Infrastruktur pendidikan yang memadai bukan hanya kewajiban moral pemerintah, tetapi juga investasi yang strategis untuk masa depan bangsa,” ujarnya.
Politisi Fraksi Partai Gerindra ini menuturkan, pemerintah bertanggung jawab memberikan pendidikan yang layak bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, etnisitas, atau geografis. “Jika menjangkau sekolahnya saja sudah sulit, bagaimana literasi mereka dapat meningkat?” tuturnya.
Iwan meminta pemerintah memberikan solusi jangka pendek yang penting untuk memberikan akses bagi siswa SDN 478 Barowa agar bisa bersekolah dengan aman dan nyaman. “Anggaran sudah ada. Tapi karena memang terbatas dan tidak sebanding dengan kebutuhan, paling tidak berikan solusi sementara untuk jangka pendek, seperti jembatan gantung dulu. Ini berlaku untuk daerah seluruh Indonesia, terutama yang ada di pelosok-pelosok,” dia menuturkan. (*)
