SENATORNEWS.ID, MAKASSAR – “Saya sangat bersyukur karena anak saya bisa terpanggil di sini,” ujar Suryani, seorang ibu rumah tangga sekaligus penjual kue keliling. Hari itu, anaknya, Muhammad Rahmatullah, resmi masuk Sekolah Rakyat dan mulai tinggal di asrama. Bukan sekolah biasa, Sekolah Rakyat hadir untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Suasana haru dan harapan memenuhi halaman Sentra Wirajaya 23 Makassar, Senin (14/7/2024). Sebanyak 150 siswa dari keluarga kurang mampu mulai menjalani hari pertama di Sekolah Rakyat jenjang SMP, dengan agenda pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan pemeriksaan kesehatan gratis dari tim Puskesmas Biringkanaya.
Salah satu siswa adalah Muhammad Rahmatullah, anak dari Ibu Suryani, warga Jalan Barawaja 2, Kecamatan Tammua, Kelurahan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ia tak kuasa menyembunyikan rasa syukur karena sang anak akhirnya mendapat kesempatan belajar di sekolah berasrama yang sepenuhnya gratis.
“Saya sangat bersyukur dan terbantu sekali. Saya dulu ingin masukkan anak ke pesantren, tapi karena ekonomi tidak cukup, saya tahan. Sekarang alhamdulillah ada program dari pemerintah, dari Presiden juga. Kami tidak pernah dipungut biaya, malah diberi uang transport,” kata Suryani haru.
Awalnya, Rahmatullah sempat enggan karena membayangkan sekolah seperti pesantren. Namun, berkat bujukan ibunya, ia luluh juga. “Saya bilang, coba nak, siapa tahu ini bisa bantu kita. Ini program dari pemerintah, gratis, dan bisa buat kamu lebih baik,” kenangnya.
Di tengah segala keterbatasan ekonomi, Ibu Suryani dan ratusan orang tua lainnya menaruh harapan besar kepada Sekolah Rakyat. Mereka percaya bahwa lewat pendidikan yang layak dan manusiawi, anak-anak mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Mudah-mudahan ini jalan untuk masa depan anak kami. Kami hanya bisa berdoa dan berterima kasih kepada semua yang sudah peduli,” tutup Suryani sambil menahan haru.
Kepala Sekolah Rakyat, Nuradiah, menjelaskan bahwa program ini memang dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga dhuafa, bahkan mereka yang sebelumnya nyaris putus sekolah.
“Kami mengutip dari Prof. Nuh menjangkau yang tidak terjangkau, memungkinkan yang tak mungkin. Sekolah Rakyat ini bukan hanya memberi akses pendidikan, tapi juga mengangkat martabat keluarga tidak mampu,” ungkap Nuradiah.
Dengan sistem boarding (berasrama), anak-anak akan tinggal di sekolah, didampingi penuh oleh guru dan pembina. Di sinilah orang tua, seperti Ibu Suryani, harus mengikhlaskan buah hatinya untuk belajar jauh dari rumah.
“Sebagai ibu pasti berat, karena anak jauh dari pelukan. Tapi demi masa depan lebih baik, saya rela. Saya titip anak saya kepada guru-guru di sini, perlakukan seperti anak sendiri,” ucapnya pelan.
Sekolah Rakyat tidak langsung memulai pelajaran akademik seperti sekolah reguler. Setelah MPLS, ada masa adaptasi 2–3 bulan agar siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pola hidup berasrama.
“Fokus kami bukan hanya akademik. Kami perkuat karakter, keterampilan hidup, dan pendidikan keagamaan. Nantinya juga akan dilakukan pemetaan bakat (talent mapping) agar setiap anak bisa berkembang sesuai potensinya,” jelas Nuradiah.
Setiap siswa akan mendapatkan laporan pengembangan akademik dan karakter. Tujuannya jelas: mempersiapkan mereka menjadi generasi emas 2045, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental.
“Kami ingin mereka tumbuh utuh. Tidak kalah dari anak-anak kota besar. Kami yakin dari sekolah rakyat ini, akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia,” tegasnya.(leony aparita)
