Amalkan Pesan Ibu, Antar Kasifah Jadi Guru Besar Unismuh Makassar

Berita, Nasional85 Views

SENATORNEWS.ID, Makassar — ​​​​Suasana Balai Sidang Muktamar ke-47 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin, 29 September 2025, terasa penuh haru dan kebanggaan.

Dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, lima dosen resmi dikukuhkan sebagai guru besar. Mereka adalah Prof.Dr.Ir. Hj. Kasifah, MP (Ilmu Kesuburan Tanah Pertanian dan Lingkungan), Prof. Agustan, S.Pd., M.Pd (Pendidikan Matematika), Prof. Hartono Bancong, S.Pd., M.Pd., Ph.D (Eksperimen Pembelajaran Fisika), Prof. Rukli, M.Pd (Evaluasi Pendidikan), dan Prof. Dr. Asriati, SE, M.Si (Ilmu Ekonomi).

Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dibacakan Wakil Rektor II, Dr. Ihyani Malik, disusul pembacaan biodata oleh Wakil Rektor I, Prof. Andi Sukri Syamsuri. Rektor Unismuh, Dr. Abdul Rakhim Nanda, mengingatkan, “Guru besar itu hampir sama dengan kiai. Orang segan menegur kalau salah. Maka refleksi diri dan introspeksi pribadi adalah keharusan.”

Perjuangan Kasifah

Prof. Kasifah lahir di Bulu, Kabupaten Bone, tahun 1966. Ia mengenyam pendidikan dasar di SD No. 44 Kading (1978), melanjutkan ke SMPN 1 Watampone (1981) dan SMA Negeri 156 Watampone (1984).

Kecintaannya pada tanah mengantarnya kuliah di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, lulus 1989. Gelar magister yang diperolehnya tahun 1997, masih di Unhas, dengan predikat cum laude. Perjalanannya berpuncak akademik di Universitas Brawijaya, Malang, dengan gelar doktor Ilmu Pertanian pada tahun 2014, lulus dengan predikat pujian.

Dalam pidatonya, ia mengenang pesan ibunya, Hj. Saenab: “Namo aga pole, aja lalo mupajai masiikolah nak” (Apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti sekolah). Pesan itu, katanya, menjadi bahan bakar perjuangannya hingga ke podium tertinggi akademik.

Dibalik pencapaian itu, Kasifah menyebut keluarga sebagai tiang utama. Kepada suami, Andi Nurson Petta Pudji, S.Ag., M.Pd.I., ia mengucap terima kasih atas dukungan dalam dinamika hidup.

Ia mendedikasikan gelar profesor ini untuk anak-anaknya: Aditya Chandra Meinaldy, Rika Musriani, Andika Surya Rachmat, Andi Muhammad Ma’mun Nizham, dan Azaira Elshanum Aditya. “Kalian penyejuk hati saat mama goyah,” ucapnya lirih.

Jejak Akademik dan Organisasi

Kasifah bergabung dengan Unismuh Makassar sejak tahun 1990-an. Ia dipercaya memimpin berbagai program studi: Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (2001–2007), Ketua Prodi Agribisnis (2007–2010), dan Ketua Prodi Agroteknologi (2017–2022).

Aktivitasnya meluas di organisasi profesi: anggota PERAGI, PERHORT, Forum Dosen Indonesia, pengurus PISPI, hingga Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI). Ia juga aktif di komunitas Aisyiyah Unismuh Makassar dan Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone.

Dalam lima tahun terakhir, Kasifah aktif meneliti kompos, fosfor, dan lahan marginal. Publikasinya di jurnal internasional bereputasi antara lain, Penerapan kompos jerami padi dan jerami jagung untuk meningkatkan ketersediaan fosfor pada tanaman ultisol dan jagung (Cleaner Waste Systems, Q2, 2025), dan Pemanfaatan Kompos Limbah Sayuran untuk Meningkatkan Ketersediaan Nutrisi dan Meningkatkan Pertumbuhan Pakcoy pada Alfisol yang Kurang Nutrisi (Sustainable Chemistry for Climate Action, Q1, 2025).

Ia juga memegang beberapa hak cipta, termasuk metode pembuatan pupuk organik dari kacang tanah (2022) dan aplikasi kompos jerami padi–jagung untuk tanah Ultisol (2025).

Penghargaan demi yang diraihnya: Alumni Terbaik S1 Unhas (1989), Alumni Terbaik Pascasarjana Unhas (1997), Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun dari Presiden RI, serta Wisudawan Terbaik II Doktor Universitas Brawijaya (2014).

Riset yang Membumi

Dalam pidato pengukuhannya, Kasifah menekankan pentingnya penelitian yang berpihak pada petani. Konsep KAHF (Kompos Aktif Humat-Fulvat) menjadi pilar gagasannya. Penelitian menunjukkan Ca-P bisa turun 67 persen, P-tersedia naik hingga sepuluh kali lipat, memberi dampak nyata bagi tanaman jagung.

“Kompos bukan sekedar pupuk organik, tapi mesin penggerak kehidupan tanah,” ujarnya.

Di mata rekan dan mahasiswa, Prof. Kasifah adalah pengajar yang membumi, ulama dalam ilmu tanah, sekaligus ibu yang setia menanamkan semangat belajar. Dari Bone ia melangkah jauh, membawa pesan sederhana kepada orang tua: jangan berhenti sekolah.

Kini, di podium Guru Besar Unismuh, pesan itu menjelma menjadi warisan bagi generasi akademik berikutnya.(senatornewsid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *