UJIAN IMAN : Menakar Kesalehan Muslim di Balik Guyuran Hujan Menuju Masjid

Opini104 Views

๐•ƒ๐•–๐•Ÿ๐•ค๐•’ ๐•๐•ฆ๐•ฃ๐•Ÿ๐•’๐•๐•š๐•ค๐•ฅ๐•š๐•œ ๐•€๐•ค๐•๐•’๐•ž๐•š

Oleh: ๐’๐ฎ๐Ÿ ๐Š๐š๐ฌ๐ฆ๐š๐ง

JANUARI 2026 telah mendarat, beriringan ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-nya musim penghujan.

Kini, setiap relung hati ditantang menatap sebuah ujian nyata: โ€œMalas ke MasjidKala Hujan.โ€ Di titik inilah, kualitas iman benar-benar dipertaruhkan.

Sebab iman bukanlah baja antikarat. Ia kerap menyerupai es krim vanila: tampak manis di mangkuk amal, memesona di etalase kesalehan. Namun begitu tersentuh rintik hujan, ia lekas lumerโ€”becek, kehilangan rupaโ€”sekaligus menelanjangi rapuhnya hati saat ujian datang menyapa.

Hingga saat ini, ketika hujan masih memamerkan tarian di atas genteng, sebuah alat ukur batin pun bekerja: Siapa teguh menjemput ridha menuju rumah-Nya, dan siapa membiarkan imannya menguap begitu sajaโ€”memilih absen dari undangan Ilahi, di masjid.

Shalat berjamaah di masjid bukan sekadar rutinitas belaka. Ia perisai jiwa, sekaligus tanda keberanian lelaki Muslim menembus badai hujan.

Ajaibnya, gerimis receh kerap menjelma dinding penghalang, menyulap sebagian pria perkasa terserang penyakit kronis bernama ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ช.

Lucunya, badan sanggup melangkah ke Warkop Daeng Nassaโ€™, organ tubuh pun kuat diajak ๐˜”๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ. Namun, langkah ke masjid mendadak ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ช, seolah tenaga ditarik paksa.

Ketika langit menggelap, tembang klasik pun terdengar: โ€œ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ hujan ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.โ€

Seketika itu pula kaki terasa lumpuh, lutut pun terbelenggu. Jarak sepelemparan batu mendadak terasa membentangโ€”bak perjalanan antargalaksi. Padahal hujan belum seberapa mempertontonkan tariannya, namun ๐˜’๐˜ถ๐˜ต๐˜ต๐˜ถ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ telah lebih dulu datang melumpuhkan iman.

Di balik kelembutan air langit, tersimpan ujianโ€”halus, senyap, menghantam tepat di jantung kejujuran batin.

Anehnya, bila sosok itu kebetulan berada di masjid, usai salam ia mendadak menjelma pelari nasional profesional. ๐˜ž๐˜ถ๐˜ด๐˜ด! Hujan diterjang tanpa gentar basah. Air langit terasa menakutkan kala menuntun langkah menuju masjid-Nya, namun mendadak menjelma tenaga ekstra saat raga bergegas pulang menuju kediaman. ๐˜š๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ’ ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข’ ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ ๐˜ฆ.

Syukur, di negeri ini hujan turun air biasa ๐˜ซ๐˜ช.

Bayangkan bila rahmat berganti murkaโ€”menjadi hujan es sebesar jeruk ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ Pangkep. Seperti melanda Australia, Brasil, atau Italia: kaca pecah, genteng roboh, nyawa melayang di tepi ajal.

Bagaimana jika negeri ini diguyur hujan batu sebesar ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, sebagaimana azab kaum Luth ASโ€”bangunan hancur, bumi ditimbun murka langit (QS. Asy-Syuโ€˜ara: 173). Belum lagi jika Janabijana ini diguyur hujan darah pernah menimpa kaum Musa AS, (QS. Al-Aโ€˜raf: 133). ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฆโ€ฆ ๐˜•๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ต๐˜ข ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ ๐˜”๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ!

๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, Zamrud Khatulistiwa ini aman dari segala badai hujan menakutkan itu.

Namun, di situlah persoalan bermula: saat hujan tiada berhenti menyemprotkan presipitasinya. Kaki terpaku, dada bimbang saat azan berkumandang di Menara masjid.

Inilah alarm paling jujur perihal rapuhnya iman; keengganan ke masjid bukanlah perkara cuaca, melainkan isyarat hati tengah terbebani daki duniawi.

Jika hujanโ€”pembawa berkahโ€”saja mampu melunturkan iman hingga malas ke masjid, bagaimana berharap tegar menghadapi badai ujian lebih besar?

Allah menandai malas beribadah sebagai ciri kemunafikan; gerimis pun menjelma cermin, menampakkan ringkihnya iman pada janji dan ancaman-Nya.

Shalat berjamaah bukan sekadar kalkulasi angka pahala, melainkan martabat ukhuwah.

Sejarah mencatat, sahabat Nabi berlomba meminta izin pindah lebih jauh dari masjid demi memanen pahala di setiap langkah.

Ada pula sosok pucat pasi karena rumah terlampau dekatโ€”merasa rugi jejak kaki tercatat sedikit oleh malaikat. Konon, demi tak kehilangan denyut gumpalan amal, sebelum masuk masjid ia terpaksa berjalan di tempat lebih dulu.

๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข’!

Lalu muncul tanya jenaka: Bagaimana jika ke masjid naik motor? Apakah berpahala?

Tentu, banyak pundi-pundi amal bro!

Setiap jengkal aspal menjadi saksi; setiap putaran roda tercatat denyut amal di langit. Semakin sering berputar, semakin tebal catatan amal sang malaikat. Maka, bagi pemilik motor berban besar, pergilah ke bengkelโ€”ganti dengan ban sepatu roda. Agar putarannya liar, pahalanya ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ!

โ€˜๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ,

Shalat fardhu lelaki beriman berada di masjid: tegap menjemput ridha-Nya, bukan tumbang diterjang hujan.

Hujan hanyalah medium; langkah kaki menuju masjid menjadi timbangannya. Selebihnya, langit tinggal membukukanโ€”siapa hamba sejati, siapa hamba ๐˜”๐˜ข๐˜ซ๐˜ขโ€™ ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ช.

Selasa, 6 Januari 2026.(SK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *