Ketua IKA UNHAS: Alumni Diperhitungkan di Tingkat Nasional dan Dunia, Stok Beras Cetak Rekor Tertinggi

SENATORNEWS.ID, MAKASSAR – Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa alumni UNHAS kini diperhitungkan di tingkat nasional dan global.

Hal itu disampaikannya saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) IKA UNHAS 2026 di Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu (2/5).

Dalam pidatonya, Andi Amran yang juga Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional memaparkan sederet capaian strategis, mulai dari aksi kemanusiaan alumni hingga rekor stok beras nasional yang diakui lembaga internasional.

“Pertama, saya ingin mengucapkan bahwa kita telah memiliki kekuatan yang lebih baik daripada sebelumnya. Pertemuan yang benar-benar bermakna ini adalah yang menggunakan kreativitas, yaitu UNHAS,” ujar Andi Amran di hadapan para pengurus dan alumni.

Ia mengungkapkan kontribusi nyata IKA UNHAS dalam kerja sosial kebencanaan. Untuk penanganan dampak gempa di Aceh, alumni UNHAS bersama sejumlah pihak menghimpun dana hingga Rp40 miliar.

Sementara itu, bantuan yang disalurkan melalui IKA UNHAS dan KKSS mencapai Rp75 miliar untuk saudara-saudara di Provinsi Aceh yang sebelumnya mengalami bencana. “Jadi, ikatan ini berkontribusi pada nasional dan dunia,” tegasnya.

Pada sektor pangan, Andi Amran memaparkan bahwa stok beras Indonesia saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah republik. “Kami lahir 1969, sejak kami lahir sampai 2026, itu yang tertinggi. Nah, ini tidak bisa dibantah,” katanya.

Hari ini, diumumkan terdapat 5 juta ton beras di gudang Bulog, ditambah 2 juta ton yang tersewa di gudang komersial. Pemerintah bahkan tengah meminta tambahan sewa gudang 1 juta ton.

“Kalau ini tidak benar, itu harus dipenjara semua direksinya, komisarisnya, dan pegawainya. Nilainya Rp60 triliun. Dan yang mengaudit adalah BPK,” ujarnya menanggapi pihak yang meragukan data stok beras.

Ia menekankan bahwa pengakuan atas pencapaian pangan Indonesia tidak berasal dari klaim sepihak, melainkan dari tiga lembaga kredibel,yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

“Hampir pasti kalau ada yang ingin protes, proteslah kepada ketiga lembaga tersebut,” ujarnya. Ia juga menyayangkan pihak-pihak yang hanya mempersoalkan data beras BPS tanpa mempermasalahkan data BPS lainnya.

Andi Amran merinci posisi Indonesia dalam peta pangan global. Indonesia sempat menjadi importir beras terbesar dunia selama dua tahun, sehingga memiliki dampak langsung terhadap 33 negara konsumen beras dan 176 negara secara keseluruhan.

Akibatnya, harga beras dunia anjlok dari 69,9 persen menjadi 36,8 persen, bahkan turun hingga 5,7 persen. “Semuanya berkaitan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengurai capaian swasembada dan kedaulatan pangan. Berdasarkan Instruksi Presiden, dari total kebutuhan nasional 73 juta ton, produksi dalam negeri mencapai 73 juta ton dengan konsumsi 68 juta ton. Impor hanya tiga komoditas dengan total 3,5 juta ton atau sekitar 4,9 persen, di bawah batas maksimal 10 persen yang menjadi konsensus kedaulatan pangan.

“Kedaulatan pangan adalah impor maksimal 10%. Itu konsensus kita,” tegasnya.

Ia pun mengkritik pihak-pihak yang diam saat Indonesia dulu impor hingga 7,1 juta ton, namun baru bersuara setelah kesejahteraan meningkat.

Andi Amran mengungkapkan arahan Presiden agar akselerasi program pangan dipercepat. “Saya mengatakan, izin Bapak Presiden, kalau bisa dipercepat 3 tahun saja. Jangan 4 tahun menjadi 1 tahun,” ungkapnya.

Presiden kemudian menelepon langsung pada malam pergantian tahun lalu. “Pak Menteri, terima kasih kamu sudah menunjukkan kinerja terbaiknya untuk kami dan untuk dunia. Terus, kamu jangan lupa kerja,” katanya menirukan pesan Presiden.

Ke depan, ia memaparkan mimpi besar menjadikan setiap pulau mandiri sebagai sumber pangan, protein, dan energi. Sumatera sudah sangat mandiri, Kalimantan tidak lagi mengambil pasokan dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, hingga Papua didorong menuju kemandirian penuh.

Di sektor energi, per 1 Juli 2026 Indonesia akan menerapkan campuran biodiesel 50 persen (B50) yang bersumber dari CPO sawit, sebagai bagian dari peta jalan menuju B100. “Dulu kami rintis mulai 2016, sekarang sudah B26. Tanggal 1 Juli, B50. Ke depan B100. Artinya apa? Kita mandiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah tiga krisis dunia yaitu air, energi, dan pangan, Indonesia justru memiliki solusi dan mampu memasoknya ke negara-negara lain.

Menutup pidatonya, Andi Amran menyampaikan komitmennya mempertanggungjawabkan amanah kepada para alumni. “Ini bukan untuk pencitraan. Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia menjadi sumber pangan, protein, energi, dan etanol. Pertahanan negara yang baik, kalau bisa kita mandiri di setiap pulau,” pungkasnya disambut tepuk tangan peserta Mubes. (Leony amparita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *