Bangsa dengan 77 Sumber Karbohidrat Tetap Bersujud pada Sepiring Nasi 

Opini6 Views

Di sebuah pesta, ketika meja dipenuhi aneka makanan, sering terdengar kalimat yang sangat akrab di telinga kita: “Belum makan kalau belum makan nasi.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terasa biasa. Namun sesungguhnya, di baliknya tersembunyi sebuah cara pandang yang telah membentuk perilaku pangan bangsa ini selama puluhan tahun.

Bukan karena nasi salah. Bukan pula karena beras harus disingkirkan. Persoalannya adalah ketika kecintaan berubah menjadi ketergantungan, dan ketergantungan perlahan menjelma menjadi kerentanan.

Ironisnya, ketergantungan itu terjadi di negeri yang sesungguhnya sangat kaya. Indonesia bukan hanya negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga salah satu pusat biodiversitas pangan paling menakjubkan di planet ini. Dari hutan Papua hingga pesisir Sulawesi, dari lereng pegunungan Jawa hingga dataran Nusa Tenggara, tumbuh beragam sumber pangan yang telah menghidupi masyarakat selama berabad-abad.

Menurut data yang dikemukakan Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta dari Universitas Hasanuddin (Unhas TV /2 Juni 2026), Indonesia memiliki sekitar 77 jenis sumber karbohidrat yang tersebar di berbagai daerah. Angka yang mencengangkan. Namun anehnya, sebagian besar dari kekayaan itu seperti hidup sebagai kenangan budaya, bukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kita memiliki sagu. Kita memiliki jagung, tetapi merasa belum makan jika tidak ada nasi.

Kita memiliki singkong, ubi jalar, talas, gembili, sukun, dan puluhan sumber pangan lain, tetapi tetap mengukur kenyang dengan warna putih yang mengepul dari penanak nasi.

Padahal sejarah Indonesia sesungguhnya adalah sejarah keberagaman pangan. Orang Papua hidup bersama sagu. Masyarakat di berbagai wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara pernah menjadikan jagung sebagai sumber energi utama.

Umbi-umbian menjadi sahabat banyak komunitas lokal jauh sebelum negara ini mengenal konsep swasembada beras.

Nasi bukan takdir budaya bangsa Indonesia. Ia adalah salah satu pilihan yang kemudian menjadi dominan.

Masalah muncul ketika dominasi itu menghapus keberagaman.

Dalam ilmu ekologi, keberagaman adalah fondasi ketahanan. Semakin beragam sebuah sistem, semakin kuat ia menghadapi guncangan.

Prinsip yang sama berlaku dalam sistem pangan. Ketika seluruh kebutuhan karbohidrat bangsa bertumpu pada satu komoditas, maka sedikit gangguan produksi dapat memicu gejolak yang besar.

Perubahan iklim, kekeringan, banjir, serangan hama, hingga fluktuasi harga global dapat dengan mudah mengguncang ketahanan pangan nasional.

Karena itu, diversifikasi pangan bukan sekadar urusan menu dapur. Ia adalah strategi peradaban.

Lebih jauh lagi, banyak pangan lokal Indonesia ternyata memiliki nilai kesehatan yang luar biasa. Di era ketika diabetes, obesitas, dan berbagai penyakit metabolik meningkat, berbagai sumber pangan lokal justru menawarkan alternatif yang lebih sehat.

Banyak di antaranya kaya serat, memiliki indeks glikemik lebih rendah, serta mengandung senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan tubuh.

Artinya, masa depan pangan tidak semata berbicara tentang kenyang, tetapi juga tentang kualitas hidup.

Menariknya, para peneliti Universitas Hasanuddin kini mengembangkan konsep beras analog, yakni produk berbentuk bulir beras yang dibuat dari sagu, singkong, ubi, dan berbagai bahan lokal lainnya. Inovasi ini seperti sebuah jembatan psikologis antara kebiasaan lama dan kebutuhan masa depan.

Masyarakat tetap melihat bentuk yang akrab, tetapi sesungguhnya sedang mengonsumsi sumber pangan yang berbeda.

Ini bukan sekadar inovasi teknologi pangan. Ini adalah upaya mendidik kesadaran.

Sebab tantangan terbesar sesungguhnya bukan berada di sawah, melainkan di kepala kita.

Masalah utama bukan kekurangan sumber pangan, tetapi kemiskinan imajinasi pangan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa nasi adalah satu-satunya jalan menuju kenyang.

Akibatnya, puluhan sumber pangan lain kehilangan panggung dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pendidikan pangan harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu diperkenalkan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki nasi.

Mereka perlu mengenal sagu, ubi, jagung, talas, dan berbagai kekayaan pangan Nusantara sebagai bagian dari identitas mereka. Di sinilah gerakan B2SA GOES TO SCHOOL perlu mendapat apresiasi.

Jika generasi muda hanya mengenal satu jenis makanan pokok, maka sesungguhnya kita sedang mewariskan kemiskinan budaya di tengah kelimpahan sumber daya.

Krisis pangan global yang mulai mengetuk pintu dunia memberi pesan yang jelas: bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang memiliki satu sumber pangan paling kuat, melainkan bangsa yang memiliki banyak pilihan ketika keadaan berubah.

Maka pertanyaan penting hari ini bukanlah apakah kita masih makan nasi.

Pertanyaannya adalah: masihkah kita ingin menjadi MADONA, Manusia Doyan Nasi, yang melupakan puluhan anugerah pangan lain yang tumbuh di tanah sendiri?

Sebab mungkin yang perlu kita ubah bukan isi piring kita terlebih dahulu, melainkan cara pandang kita terhadap kekayaan negeri ini.

Ketika kita kembali menghargai sagu, jagung, ubi, talas, dan seluruh pangan lokal Nusantara, sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar makan. Kita sedang merawat kedaulatan pangan, menjaga kesehatan bangsa, dan menghormati kebijaksanaan leluhur yang sejak lama memahami bahwa keberagaman adalah sumber kekuatan.

Dan mungkin, di masa depan, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan lagi berapa banyak beras yang dikonsumsi, melainkan seberapa bijaksana bangsa itu menghargai seluruh karunia yang tumbuh di tanahnya sendiri.

Muliadi Saleh

Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *