Dr. Nani Harlinda Nurdin, M.Si
(PP IKA Unhas Periode 2022-2026)
Di tengah bayang-bayang krisis pangan global, disrupsi rantai pasok, dan tekanan perubahan iklim, upaya mewujudkan swasembada pangan di Indonesia bukanlah pekerjaan sederhana. Lalu pertanyaannyaa, siapa yang menjaga negeri ini agar tetap bertahan?. Setidaknya untuk saat ini jawabannya tidak hanya lahir dari ruang megah kekuasaaan semata, tetapi dari hamparan sawah, dari keja sunyi petani, dan dari keberanian kebijakan yang ambil oleh Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P.
Kedaulatan pangan bukan lagi sekedara jargon pembangunan, tetapi telah enjelma menjadi taruhan besar, bahkan menjadi pertarungan pliik, ekonomi dan social ditengah ketidakpastian global. Konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, hingga perubahan iklim telah mendorong banyak negara kembali pada satu kesadaran lama, pangan adalah kekuasaan. Langkah-langkah yang diambil sektor peranian tidak bisa lagi dipandang sebagai kebijakan sektoral biasa, melainkan sebagai strategi mempertahankan kedaulatan negara.
Data Badan Pusat Statistik dan Laporan Kinerja Kementrian Pertanian menunjukkan bahwa produksi padi nasional dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil di kisaran 54–56 juta ton gabah kering giling (GKG) per tahun. Angka ini bukan sekedar statistik, tetapi indikator bahwa di tengah tekanan global, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas produksi pangannya. Produktivitas padi yang berada di kisaran 5,2-5,4 ton per hektare juga menunjukkan adanya perbaikan efisiensi yang tidak bisa dilepaskan dari intervensi kebijakan.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat intervensi kebijakan yang cukup sistematis. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendorong program intensifikasi dengan penggunaan benih unggul, pupuk bersubsidi yang lebih terarah, serta distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan). Dalam kurun waktu dua tahun, puluhan ribu unit alsintan telah didistribusikan kepada kelompok tani di berbagai daerah. Mekanisasi ini terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 30% dan mempercepat proses tanam maupun panen, sehingga indeks pertanaman meningkat.
Tidak hanya pada komoditas padi, capaian signifikan juga terlihat pada jagung. Indonesia yang sebelumnya masih mengimpor jagung dalam jumlah besar, secara bertahap mampu menekan impor bahkan mendekati swasembada. Data menunjukkan bahwa produksi jagung nasional meningkat dari sekitar 19 juta ton pada awal periode menjadi lebih dari 23 juta ton dalam beberapa tahun berikutnya. Peningkatan ini tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga pada sektor peternakan yang sangat bergantung pada jagung sebagai bahan pakan.
Di sisi lain, upaya penertiban tata niaga pangan juga menjadi salah satu ciri kepemimpinan Amran Sulaiman. Kementerian Pertanian secara aktif melakukan pengawasan terhadap distribusi pangan dan pupuk bersubsidi. Dalam beberapa kasus, aparat berhasil mengungkap praktik penyimpangan distribusi pupuk dan penimbunan bahan pangan yang merugikan petani dan masyarakat. Langkah ini berkontribusi pada stabilisasi harga, terutama pada komoditas strategis seperti beras, cabai, dan bawang.
Keberhasilan lain yang patut dicatat adalah peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP), yang menjadi indikator kesejahteraan petani. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa NTP 124, 36% tertinggi sepanjang sejarah ini berarti bahwa pendapatan petani relatif lebih tinggi dibandingkan pengeluarannya. Meskipun fluktuasi tetap terjadi, tren ini menunjukkan adanya perbaikan dalam struktur ekonomi petani.
Dari perspektif tata kelola, apa yang dilakukan Bapak Dr. Ir. H. Amran Sulaiman, M.P dapat dibaca sebagai upaya reformasi birokrasi di sektor pertanian. Digitalisasi data pertanian mulai diperkuat, termasuk dalam hal pemetaan lahan, distribusi pupuk bersubsisi, dan monitoring produksi. Pendekatan berbasis data ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Dalam konteks governance, langkah ini mencerminkan peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sektor publik.
Capaian ini tentu saja tidak lepas dari tantangan. Perubahan iklim yang menyebabkan pergeseran musim tanam, fenomena El Niño yang berdampak pada penurunan produksi, serta keterbatasan infrastruktur irigasi menjadi hambatan nyata. Selain itu, regenerasi petani juga masih menjadi persoalan serius, di mana sebagian besar petani berada pada usia lanjut. Dalam jangka panjang, isu ini dapat memengaruhi keberlanjutan produksi pangan nasional. Meskipun dalam keterbatasan tersebut, capaian yang diraih tetap menunjukkan arah yang positif. Swasembada pangan tidak lagi sekadar wacana, tetapi mulai terlihat sebagai realitas yang dapat dicapai secara bertahap. Bahkan, dalam beberapa komoditas, Indonesia mulai menunjukkan potensi sebagai eksportir (Rp. 629,7 T ekspor pertanian baik segar maupun olahan, naik sebesr 33,60% dibandingkan tahun 2024), yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Tambahan penting lainnya adalah kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor pertanian secara konsisten menyumbang sekitar 10,52% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi salah satu sektor yang relatif tangguh saat krisis dan menjadi penopang PDB Nasional. Ketika banyak sektor mengalami kontraksi, pertanian justru tetap tumbuh positif, menunjukkan perannya sebagai shock absorber ekonomi nasional. Selain itu, sektor pertanian juga menyerap lebih dari 38,20 juta orang tenaga kerja Indonesia (naik sebesar 1,02% dibanding tahun 2024), menjadikannya tulang punggung bagi kehidupan jutaan masyarakat.
Dalam momentum ulang tahun ini, izinkan saya menyampaikan bahwa refleksi ini bukan sekedar apresiasi, namun merupakan pengingat bahwa dibalik setiap kebijakan ada tanggung jawab besar yang dipikul, bukan soal angka produksi, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan tersebut diimplemtasikan secara efektif di lapangan.
Apa yang ditunjukkan oleh Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman memberikan pelajaran bahwa keberhasilan sektor publik membutuhkan kombinasi antara visi, keberanian, dan konsistensi. Beliau membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian dapat menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional.Karena menjaga pangan adalah juga menjaga masa depan.
Swasembada pangan pada akhirnya, adalah tentang kedaulatan yang mencerminkan kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa bergantung pada pihak lain. Disinilah kontribusi Amran Sulaiman menjadi signifikan, bukan hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi masa depan Indonesia.
Selamat ulang tahun untuk Menteri Pertanian, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. Semoga dedikasi dan kerja keras yang telah ditorehkan terus berlanjut, menginspirasi, dan membawa Indonesia semakin dekat pada cita-cita besarnya, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.
