“Saya ingin Teruskan Pengabdian Andi Rudiyanto Asapa”

Wawancara dengan dr Felicitas Andi Rudiyanto Asapa

Berita234 Views

‘‘JANGAN pernah lelah membantu orang yang membutuhkan, sepanjang kita punya kemampuan untuk itu.“ Pesan mantan Bupati Sinjai, almarhum Andi Rudiyanto Asapa itu masih terngiang di benak dr Felicitas. Itu pula yang mendorong ia memilih daerah pemilihan (Dapil) 2 Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam pemilihan umum 2024. Dapil ini meliputi Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pare-pare, Barru, Pangkep, dan Maros. ‘‘Saya ingin ikut berkontribusi membantu masyarakat di daerah pemilihan ini di parlemen,“ tuturnya mantan anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Dapil 3 Sulsel ini.

Felicitas—biasa dipanggil dr Sita–mengenal betul kondisi masyarakat di daerah ini. Dia pernah menjabat Kepala RSUD Sinjai dan 10 tahun mendampingi suaminya saat memimpin kabupaten ini. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Unhas ini pernah menjabat Kepala RSUD Sinjai dan 10 tahun mendampingi suaminya saat memimpin Kabupaten Sinjai. Dia ingin meneruskan pengabdian almarhum Andi Rudiyanto Asapa kepada masyarakat di kabupaten ini khususnya, juga masyarakat yang lebih luas di Sulsel.

Apa alasan Anda pindah dari dari Dapil 3 ke Dapil 2?

Saya ingin meneruskan pengabdian almarhum Andi Rudiyanto Asapa kepada masyarakat di Kabupaten Sinjai khususnya, juga masyarakat yang lebih luas di Sulawesi Selatan. Itu pernah almarhum sampaikan. Secara tersirat dia berpesan, ‘‘Jangan pernah lelah membantu orang yang membutuhkan, sepanjang kita punya kemampuan untuk itu.“

Apa sebenarnya peran wakil rakyat di parlemen?

Wakil rakyat seyogya bekerja untuk kepentingan rakyat, terutama masyarakat di wilayah yang diwakilinya. Untuk, dia dituntut memahami kondisi masyarakat, memahami masalah yang mereka hadapi. Dengan pemahaman itu, dia bisa bersuara, memperjuangan kepentingan mereka di parlemen.

Anda yakin bisa memainkan peran itu andai diberi amanah menjadi anggota DPR?

Saya menyadari peran itu. Saya juga memahami kondisi masyarakat, baik di kota maupun di desa. Kesadaran dan pemahaman itu didukung oleh perjalanan hidup saya dalam bergaul dengan berbagai strata masyarakat. Saya tidak hanya berlatar akademik yang lebih dari cukup sebagai dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, tapi juga merasa cukup punya modal sosial yang menyertai perjalanan hidup saya. Tanpa disadari, semua itu memperkaya wawasan saya, melahirkan benih-benih kepedulian kepada sesama.

Adakah perjalanan hidup Anda yang bersentuhan dengan masyarakat?

Sebagai seorang dokter, saya pernah bertugas dan menjadi Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Galesong Utara, daerah nelayan dengan penduduk miskin di Takalar, Sulawesi Selatan. Selama bertugas di sana, saya melihat realitas kehidupan keseharian masyarakat. Masih banyak yang menjalani kehidupan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tahun demi tahun berganti, tapi hidup mereka tetap seperti itu. Tak ada perubahan yang berarti dalam pola hidup mereka.

dr Felicitas R Asapa berfoto dengan warga (istimewa)

Perjalanan waktu membawa saya menjadi Kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sinjai yang memungkinkan saya bisa bersentuhan dengan lebih banyak masyarakat desa. Ragamnya pun menjadi luas. Di Galesong saya banyak melayani masyarakat nelayan, di Sinjai saya bersentuhan dengan nelayan dan petani. Sebagaimana halnya di Galesong, kondisi masyarakat di Sinjai tidak lebih baik. Masih banyak yang membutuhkan sentuhan untuk tumbuh dan berkembang.

Anda pernah mendampingi Andi Rudiyanto Asapa sebagai Bupati Sinjai. Apa peran Anda sebagai istri bupati?

Intensitas persentuhan dengan masyarakat kian mendalam setelah suami saya, almarhum Andi Rudyanto Asapa, diberi amanah memimpin Kabupaten Sinjai. Sejak itu saya tidak sebatas menjabat kepala rumah sakit, tapi sekaligus istri bupati yang secara moral mendukung tugas-tugas suami. Dalam posisi seperti itu, mau tidak mau saya harus banyak menghabiskan waktu turun ke masyarakat, mencari tahu masalah yang mereka hadapi untuk menjadi pertimbangan dalam menyusun program pembangunan di daerah itu.

Apakah pengalaman banyak bersentuhan dengan masyarakat mendorong Anda menjadi caleg?

Pengalaman hidup bersama masyarakat yang didukung kunjungan ke berbagai negara dan latar pendidikan sebagai dokter menjadi modal yang akan saya bawa ke Senayan jika diberi amanah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Saya merasa terpanggil untuk berkiprah di panggung lebih luas, memberikan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki kepada lebih banyak masyarakat.

Anda pernah menjadi anggota DPR RI. Apa saja sumbangsih Anda kepada masyarakat?

Tidak sebatas wacana, itu sudah saya buktikan. Saat menjadi anggota DPR RI, saya cukup memberi warna keberadaan anggota parlemen dari Provinsi Sulawesi Selatan di palemen. Saya ikut berkontribusi dalam berbagai kebijakan untuk kepentingan masyarakat. Kontribusi itu terutama di sektor pertanian, perikanan, kehutanan, juga ketersediaan pangan—sektor yang bermitra dengan Komisi IV, komisi tempat saya ditugaskan.

Selama masa itu, tidak sedikit bantuan dari kementerian yang bermitra dengan Komisi IV disalurkan ke daerah pemilihan—saat itu di daerah pemilihan (Dapil 3) Sulawesi Selatan. Dapil ini meliputi Kabupaten Pinrang, Sidrap, Enrekang, Toraja, dan Toraja Utara, termasuk di wilayah Luwu Raya. Bantuan di antaranya berupa traktor dan pupuk untuk petani, juga bantuan ternak untuk masyarakat di wilayah itu.

Apa yang mendorong Anda ingin kembali berkantor di Senayan?

Kali ini saya kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI. Berbeda dengan sebelumnya, kini saya berpindah ke Dapil 2 yang meliputi Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pare-pare, Barru, Pangkep, dan Maros. Saya ingin ikut berkontribusi membantu masyarakat di daerah pemilihan ini di parlemen.
Komitmen itu sudah saya buktikan, tidak hanya selama menjadi wakil rakyat di Senayan, tetapi juga sejak di Puskesmas Takalar, Kepala Rumah Sakit Umum Daerah di Sinjai, dan 10 tahun mendampingi almarhum Andi Rudiyanto Asapa memimpin kabupaten ini. Itulah semangat yang mendorong saya memberanikan diri menjadi calon anggota legislatif (caleg) dalam Pemilihan Umum 2024.

Ada pesan kepada pemilih di dapil Anda?

Saya hanya mengatakan, gunakan hati nurani dalam memilih caleg. Perhatikan rekam jejak calon akan dipilih. Pilihan menentukan nasib kita lima tahun ke depan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed