SENATORNEWS.ID, MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi meluncurkan layanan transportasi massal Bus Trans Sulsel pada Senin (14/7/2025). Peresmian ditandai dengan pelepasan 27 armada bus oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di kawasan Jembatan Toraja, Center Point of Indonesia (CPI) Kota Makassar.
Peluncuran Trans Sulsel ini mencakup dua koridor utama yang akan melayani jalur strategis di kawasan Mamminasata, yakni Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maros. Seluruh armada bus yang digunakan merupakan kendaraan baru tahun produksi 2024, masing-masing berkapasitas 35–40 penumpang per unit.
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa layanan Trans Sulsel merupakan bentuk kelanjutan dari program Bus Trans Mamminasata yang sebelumnya telah dijalankan di wilayah ini. Bedanya, kali ini Pemprov Sulsel mengambil alih sepenuhnya dua rute prioritas dengan dukungan subsidi dari anggaran daerah.
“Trans Sulsel ini adalah kerja sama Pemprov dengan Kementerian Perhubungan. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Menteri karena masih menjalankan beberapa koridor penting,” ujar Andi Sudirman dalam sambutannya.
Ia menambahkan, Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran sebesar Rp16,7 miliar untuk menyubsidi operasional Trans Sulsel. Subsidi tersebut terdiri dari Rp9,4 miliar untuk koridor 1 dan Rp7,3 miliar untuk koridor 2. “Saat ini masyarakat bisa menikmati layanan ini secara gratis. Nanti akan kita evaluasi berdasarkan respons dan animo masyarakat sebelum menentukan tarifnya,” tambah Sudirman
Koridor pertama menghubungkan Kota Makassar dengan Kabupaten Takalar. Rute ini dimulai dari Panakkukang Square dan melintasi Jalan AP Pettarani, Jalan Pelita Raya, Sungai Saddang, Gunung Latimojong, hingga ke kawasan CPI. Dari sana, bus akan melanjutkan perjalanan menuju Universitas Ciputra, Masjid 99 Kubah, Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan, hingga ke Pelabuhan Takalar. Koridor ini dilayani oleh 14 unit bus, termasuk satu unit cadangan, dengan total 105 titik halte untuk rute pulang dan pergi.
Sementara itu, koridor kedua menghubungkan kawasan pendidikan dan simpul transportasi. Dimulai dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, rute ini mengarah ke Bandara Sultan Hasanuddin dan berakhir di Terminal Kereta Api Mandai, Maros. Jalur ini terkoneksi langsung dengan jalur Kereta Api Makassar–Parepare. Sebanyak 13 bus dikerahkan untuk melayani koridor ini, dengan total 51 halte yang telah disiapkan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel, Andi Erwin Terno, menjelaskan bahwa kehadiran Trans Sulsel merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan transportasi publik yang layak dan terjangkau. Menurutnya, layanan ini sekaligus menjadi solusi dari pembatasan anggaran pusat terhadap program Teman Bus.
“Pemprov Sulsel mengambil alih dua koridor utama karena Kementerian Perhubungan membatasi subsidi. Ini bukti keseriusan kami dalam memastikan masyarakat tetap memiliki akses transportasi publik yang aman dan nyaman,” ujar Erwin.
Ia mengungkapkan, selama simulasi rute yang dilakukan tiga hari terakhir sebelum peluncuran resmi, antusiasme masyarakat sangat tinggi. “Penumpangnya banyak sekali, bahkan ada yang berdiri. Ini jadi indikator awal bahwa program ini tepat sasaran,” ucapnya.
Selain menggunakan armada baru, bus Trans Sulsel juga dilengkapi halte modern serta sistem yang terintegrasi dengan simpul transportasi lainnya seperti pelabuhan, bandara, dan terminal kereta. Hal ini diharapkan dapat mendukung mobilitas masyarakat lintas kabupaten/kota sekaligus mengurangi beban kemacetan di wilayah perkotaan.
“Kami harap masyarakat ikut mendukung dan menjaga fasilitas ini. Trans Sulsel adalah langkah nyata untuk menciptakan sistem transportasi publik yang berkelanjutan dan efisien di Sulawesi Selatan,” tutup Gubernur Andi Sudirman. (leony amparita)






