SENATORNEWS.ID, Makassar, 2 November 2025.Di tengah kontestasi calon rektor, Prof Iqbal Djawad diam-diam punya kesibukan lain.
Ia bersama timnya mengembangkan transformasi digital akuakultur, sebuah teknologi IoT yang dibutuhkan para petambak di seluruh Indonesia.
Aquanotes, perangkat pemantau kualitas air tambak berbasis AIoT yang lahir dari riset kampus, dirancang bekerja langsung di kolam dan menyajikan data yang bisa segera ditindak.
Bayangkan Aquanotes sebagai asisten tambak yang bisa diakses lewat ponsel, alat ini memantau kolam sepanjang waktu, lalu memberi notifikasi lengkap dengan saran tindakan sehingga masalah bisa dicegah sebelum jadi penyakit, panen lebih stabil, dan kerja harian lebih terarah.
Perangkat ini telah berevolusi menjadi Aquanotes 2.0 yang lebih ringkas dan fleksibel, serta diperkuat FeedeVision, modul computer vision untuk memperkirakan kepadatan pakan alami agar manajemen pakan lebih efisien.
Peran Iqbal tampak pada cara produk ini membumi dan bisa diaplikasikan di lapangan. Dalam praktiknya, Aquanotes membantu petambak melihat kolam.
Tujuannya agar produksi yang dihasilkan semakin meningkat. Tentunya untuk mendukung ketersediaan pangan.
“Sejak 2023 saya mengembangkan ini, sebagai inventor, kami mengerjakan dengan melibatkan mahasiswa Perikanan dan Teknik Elektro Unhas,” kata Iqbal Djawad.
Uji coba lapangan dilakukan di BPBAP Takalar pada fase minimum viable product (MVP). Setelah tahap uji, tim menetapkan sasaran adopsi awal menyasar 8.000 kolam tambak di Sulawesi Selatan sebagai beachhead sebelum diperluas nasional.
Inovasi Prof Iqbal Djawad Masuk Top 3 Aplikasi Perikanan Nasional
“Saat ini kami masuk tiga besar pemain aplikasi IT di bidang perikanan,” ujar Iqbal.
Posisi itu ditopang kebutuhan nyata di lapangan dan pendekatan produk yang tidak berhenti pada visualisasi, melainkan alat keputusan.
Aquanotes dan FeedeVision dirancang untuk mengikat data dengan tindakan, intervensi aerasi, koreksi pakan, dan mitigasi risiko kualitas air yang kerap memicu penyakit pada budidaya.
Sejumlah partisipasi di program inovasi tingkat nasional dan ASEAN turut memperkuat eksposur dan jejaring pengembangan.
Bahkan Iqbal Djawad mengenalkan teknologi ini pada acara Agri-Innovation Forum 2025 di Filipina.
“Teknologi ini sudah kami perkenalkan di Filipina dan pihak sana berminat untuk mengadopsinya, namun belum saya berikan.” paparnya
Di balik pengembangan, tim inti memadukan peran anak muda dan bersama beberapa akademisi senior memastikan standar ilmiah, jejaring riset, dan tata kelola pengetahuan tetap kuat seiring rencana peningkatan skala produk.
Relevansinya untuk Unhas
Di lingkungan kampus, model yang dibawa Iqbal menekankan hilirasi riset.
Laboratorium berfungsi sebagai living lab, mahasiswa menjadi co-creator dari hulu ke hilir, riset berujung pada produk yang terpasang di bibir tambak.
Praktik ini mendorong riset terapan lintas disiplin, memperkuat ekosistem HKI dan kemitraan industri, serta menyiapkan tata kelola data dan sertifikasi perangkat agar inovasi kampus siap dipakai luas.
Dalam konteks pemilihan rektor, jejak tersebut menunjukkan arah yang terang.
Unhas tidak hanya kuat di publikasi, tetapi juga hadir di ekonomi riil yang menerjemahkan persoalan lokal menjadi solusi yang berdampak.
Dan Iqbal Djawad telah memulainya. Lewat telnologi Iot, sejak 2023 membantu Petani Tambak.(Senatornewsid)












