SENATORNEWS.ID, PIDIE JAYA – Puskesmas Meurah Dua di Pidie Jaya tak berdaya beroperasi pascabencana. Menyikapi kondisi darurat ini, Tim Medis Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengambil alih dengan mendirikan posko layanan primer di halaman puskesmas dan sekaligus memperkuat staf di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.
Strategi dua ujung tombak ini dilakukan untuk menjangkau korban di pengungsian dan yang membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.
Tim bantuan medis UNHAS yang dikomandoi dr. Muhammad Phetrus Johan, SpOT(K), menerapkan strategi ganda untuk mengatasi krisis kesehatan pascabencana di Kabupaten Pidie Jaya.
Dengan kondisi Puskesmas Meurah Dua yang lumpuh total akibat kekurangan tenaga dan obat, tim UNHAS mendirikan posko darurat di halaman puskesmas tersebut sebagai ujung tombak layanan kesehatan primer.
“Kami membagi waktu untuk memastikan penanganan optimal, baik di tingkat komunitas pengungsi maupun di fasilitas referensi,” jelas dr. Phetrus dikutip, Minggu (7/12/2025).
Di Posko Darurat Meurah Dua, tim yang terdiri dari spesialis penyakit dalam, anak, kebidanan, ortopedi, serta pendamping PPDS dan Tenaga Bantuan Medis (TBM) FK UNHAS, memberikan layanan langsung kepada pengungsi.
Hasilnya, dalam satu hari tercatat 50 pasien anak yang sebagian besar menderita Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) ditangani dr. Bahrul Fikri, SpA(K). Sementara dr. Endy Adnan, SpPD(K), menangani 28 pasien dewasa dengan keluhan ISPA, hipertensi, sakit lambung, dan penyakit kulit.
Layanan ortopedi di posko menangani lima pasien luka tusuk dan infeksi kaki, serta satu kasus patah tulang betis.
Layanan khusus juga diberikan kepada kelompok rentan. Dr. Sitti Nur Asni, SpOG, memimpin layanan obstetri mobile menggunakan ambulans untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan skrining risiko tinggi pada empat ibu hamil.
Sementara itu, di RSUD Pidie Jaya, tim UNHAS melakukan penguatan dengan menempatkan tenaga tambahan. Seorang dokter residen penyakit dalam diperbantukan di poliklinik, yang berhasil melayani 26 pasien.
Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit juga dibantu tim ortopedi Unhas yang menangani enam kasus cedera muskuloskeletal. Bahkan, tim obgyn Unhas juga melakukan tindakan bedah sesar di kamar operasi RSUD.
“Seluruh kegiatan ini berjalan berkat dukungan penuh adik-adik PPDS dan TBM FK UNHAS yang bekerja tanpa kenal lelah di lapangan,” puji dr. petrus.
Ia menegaskan, tim sinergi menjadi kunci layanan kesehatan yang cepat dan terkoordinasi bagi korban bencana.
Upaya terpadu ini menunjukkan komitmen UNHAS untuk terus hadir memberikan pelayanan kesehatan terbaik di wilayah terdampak bencana, mengisi kesenjangan layanan ketika fasilitas kesehatan lokal tak lagi mampu berfungsi normal. (Leony amparita)






