SENATORNEWS.ID, BATANGTORU — Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan terus bergerak dalam penanganan bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Salah satu langkah nyata adalah pemasangan mesin penjernih air di Desa Batu Hula, Kecamatan Batangtoru, Sumatra Utara, yang menjadi titik pengungsian korban banjir, Sabtu (27/12/2025).
Universitas Pertahanan (Unhan) RI bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) membentuk Satuan Tugas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air. Tim ini bertugas menghadirkan solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Kadet Program Studi Teknik Sipil FTTP Unhan, Sersan Mayor Dua Kadet Ronald Marcus Sihite, menjelaskan bahwa sistem penjernihan air dirancang agar mudah dioperasikan di lapangan. Teknologi yang digunakan memanfaatkan fiber reinforced plastic (FRP) sebagai tabung filtrasi utama.
“Di dalam sistem FRP terdapat beberapa lapisan media penyaring: manganese ferrolit dan manganese zeolit untuk mengurangi kandungan logam dan kekeruhan, karbon aktif untuk menyerap bau, warna, serta zat pencemar organik, dan silika untuk memperhalus hasil penyaringan,” jelas Marcus.
Air hasil filtrasi kemudian diproses lebih lanjut dengan teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil, termasuk garam terlarut dan kontaminan mikro.
Tahap akhir dilakukan dengan penyinaran ultraviolet (UV) yang berfungsi membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme berbahaya sehingga air aman untuk dikonsumsi.
Marcus menambahkan, keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi biaya dan kapasitas produksi yang tinggi. Sistem mampu menghasilkan lebih dari 20.000 liter air bersih per hari serta 4.000–5.000 liter air layak konsumsi per hari, dengan kualitas yang baik dan debit besar.
Sementara itu, Kepala Desa Batu Hula menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan Kementerian Pertahanan dan TNI.
“Terima kasih telah memberikan fasilitas mesin penjernih air. Sudah berfungsi dan bisa langsung diminum. Ini sangat bermanfaat bagi kami para pengungsi, sebanyak 1.700 jiwa yang ada di desa kami,” ujarnya. (*)








