SENATORNEWS.ID, Lhokseumawe, Aceh, — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Mentan Amran) menegaskan pendekatan padat karya sebagai strategi utama dalam rehabilitasi sektor pertanian pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Melalui skema ini, petani tidak hanya memulihkan lahan pertaniannya, tetapi juga memperoleh pendapatan selama proses pemulihan berlangsung.
Mentan Amran menegaskan bahwa sawah-sawah yang rusak akan diperbaiki kembali dengan melibatkan langsung pemilik lahan.
“Sawah yang rusak itu diperbaiki sendiri oleh pemiliknya, tetapi biayanya ditanggung oleh pemerintah pusat. Jadi saudara kita mendapat pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden,” tegasnya di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1/2026).
Menurut Mentan Amran, konsep karya yang padat memastikan seluruh pemilik sawah terlibat aktif dalam proses rehabilitasi. Mereka bekerja di lahannya sendiri dan mendapatkan penghasilan harian yang cukup untuk kebutuhan keluarga.
“Pendapatan hariannya cukup untuk harian, bekerja di sawahnya sendiri.Sementara pengolahan tanah, benih, dan irigasi ditanggung pemerintah pusat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, di Aceh terdapat sekitar 10.000 hektar lahan sawah yang direhabilitasi dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 200.000 hari orang kerja (HOK) yang dibayar secara harian.
Sementara itu, untuk pemulihan, pemerintah menargetkan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan secara maksimal dalam waktu tiga bulan.
“Khusus Aceh, sama dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai,” ujar Mentan Amran.
Selain mengandalkan tenaga petani, Kementan juga menerapkan teknologi dalam rehabilitasi. Traktor disiapkan untuk pengolahan tanah, perbaikan jaringan irigasi dilakukan secara intensif, sementara lahan yang tertimbun lumpur dalam akan ditangani dengan teknologi drone.
“Ini teknologi baru yang kita gunakan,” katanya.
Di tengah proses pemulihan, ketahanan pangan Mentan Amran tetap aman. Stok beras nasional saat ini mencapai 3,2 juta ton dan dinilai sangat kuat untuk memenuhi kebutuhan tiga hingga enam bulan ke depan.
“Saudara, sahabatku yang kena bencana, pangan tidak ada masalah di tiga provinsi, bahkan seluruh Indonesia,” tegasnya.
Berdasarkan data Kementan, total lahan pertanian yang terdampak bencana di tiga provinsi mencapai sekitar 98 ribu hektar, dengan Aceh sekitar 32 ribu hektar. Mentan Amran optimistis pemulihan dapat berjalan cepat.
“Kalau kita kerja ikhlas, kerja bersama, kolaborasi, insya Allah ini bisa kita selesaikan dengan cepat. Tidak ada berarti kendala,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendekatan padat karya dilakukan secara menyeluruh.
“Semua yang punya lahan kami libatkan. Kami tidak ingin kontraktor besar masuk, tapi karya padat, sehingga mereka berpendapat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi Soeharto menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah dalam merevitalisasi lahan pertanian pascabencana. Komisi IV mendorong percepatan rehabilitasi sawah, tambak, dan perkebunan, serta menyatakan kesiapan mendukung tambahan anggaran bila diperlukan.
“Kalau untuk kepentingan daerah bencana, tentu kami akan menyetujuinya,” tegas Ketua Komisi.






