SENATORNEWS.ID, Jakarta – Pemerintah kembali menegaskan pelaku seluruh usaha wajib mematuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penegasan ini disampaikan langsung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebagai bentuk komitmen negara menjaga stabilitas harga pangan, melindungi konsumen, sekaligus memastikan petani tetap sejahtera.
Menurut Mentan yang juga merupakan Kepala Badan Pangan Nasional (BAPANAS), ketersediaan stok pangan nasional saat ini sangat mencukupi, sehingga tidak ada alasan harga kebutuhan pokok beras, minyak goreng, dan komoditas strategis lainnya yang mengalami penyiaran.
“Produksi ada, stok ada. Beras kita tertinggi sepanjang sejarah republik ini, minyak goreng juga berlimpah. Kalau harga masih naik, berarti ada yang tidak beres di tata niaga,” tegas Mntan Amran.
Ia memaparkan, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 3,7 juta ton, dan diperkirakan meningkat hingga 6–7 juta ton pada April mendatang, seiring penyerapan gabah petani yang terus dilakukan dengan mematuhi Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
“Kalau kita ingin petani sejahtera, HPP harus dipatuhi. Jangan harga ditekan di petani, tapi melibatkan konsumen. Itu tidak adil,” ujarnya.
Pemerintah menekankan bahwa HET bukan merugikan pedagang, melainkan menciptakan keseimbangan agar semua pihak dapat mengambil keuntungan. Dengan HET yang dipatuhi, petani mendapatkan harga yang layak, pedagang memperoleh margin yang wajar, dan konsumen terlindungi dari harga yang ditawarkan.
Menjelang momentum Nataru, Mentan Amran mengingatkan agar tidak ada pihak yang memainkan harga demi keuntungan tidak wajar. Ia bahkan menyampaikan secara terbuka tekanan besar yang dirasakannya setiap kali harga pangan bergejolak.
“Saya ini setiap Natal dan Lebaran, asam lambung saya naik. Pernah saya periksa sampai ke luar negeri. Dokternya bertanya, kerja bapak apa? Saya jawab petani. Dia bilang, jangan stres. Ini stresnya tinggi,” ungkap Amran.
Ia menjelaskan, tekanan muncul karena posisi pemerintah yang selalu berada di tengah. Saat harga naik, konsumen marah. Saat harga turun, petani protes. Ketika harga stabil, asosiasi pedagang pun sering bersuara.
“Harga naik dimarahi konsumen, harga turun dimarahi petani, harga sedang-sedang saja asosiasi (pengusaha) marah. Ini yang bikin stres,” katanya.
Mentan Amran bahkan mengungkapkan pengalaman pribadinya saat mengalami vertigo berat akibat tekanan tersebut.
“Saya pernah vertigo sampai jam tujuh dirawat, baru bisa bangun. Minus dua hari Lebaran. Jangan sampai terulang,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang sengaja menaikkan harga dan merugikan rakyat.
“Saya tidak menularkan penyakit, tapi yang menaikkan harga, saya pastikan saya ‘vertigokan’. Percayalah sama saya,” tegas Mentan Amran mengundang perhatian peserta rapat.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga mengungkap bahwa penegakan hukum di sektor pangan terus berjalan. Hingga kini, 75 pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan dan kejadian distribusi pangan, serta ribuan izin usaha yang dicabut di sektor beras, minyak goreng, pupuk, dan komoditas lainnya.
“Itu bukan kesalahan biasa. Itu penipuan, titik. Dan negara harus hadir melindungi rakyat,” tegasnya.
Pemerintah mengajak seluruh pelaku usaha, asosiasi, dan pemangku kepentingan pangan untuk mematuhi HET dan HPP, menjaga tata niaga yang jujur dan berkeadilan, agar masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan tenang, harga stabil, dan pasokan aman.






