SENATORNEWS.ID, MAKASSAR – Menjelang datangnya bulan Ramadan, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel bersama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, menggelar pemantauan hilal penentu awal Ramadan 1447 Hijriah.
Tahun ini, operasi pengamatan tidak hanya terpusat di satu tempat, namun tersebar di tiga titik strategis untuk memastikan akurasi data, dengan Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi episentrum kegiatan.
Pemantauan yang berlangsung pada Selasa (17/2/2026) atau bertepatan dengan 29 Syakban 1447 H ini, mengandalkan langit sore sebagai panggung utama.
Observatorium Unismuh yang berlokasi di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, menjadi lokasi dengan titik koordinat 05° 10′ 48″ Lintang Selatan dan 119° 26′ 24″ Bujur Timur. Berada di ketinggian 180 meter di atas permukaan laut, tempat ini dipilih untuk mendapatkan horizon yang lebih jelas.
Plt Kepala BBMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa timnya tidak hanya mengandalkan satu alat.
Selain teleskop utama milik observatorium, dua unit teropong pendukung turut disiagakan untuk mengintip penampakan hilal.
“Kami ingin memastikan data yang diperoleh seakurat mungkin. Sumber data astronomi yang digunakan adalah ELP2000-82B untuk data Bulan dan VSOP 87 untuk data Matahari dengan Algoritma Jean Meeus,” ujar Nasrol.
Fokus pengamatan tertuju pada momen kritis saat matahari terbenam, yang diprediksi terjadi pada pukul 18:23:59 WITA. Dengan posisi azimuth matahari di angka 257.970°, tim astronom akan berusaha menangkap cahaya pertama bulan sabit yang sangat tipis.
Tidak hanya di kampus Unismuh, tim Kemenag Sulsel juga menyebar ke dua lokasi lain yang dinilai memiliki kondisi geografis ideal.
“Pemantauan serupa juga kita gelar di Pattalassang, Kabupaten Takalar, dan di Malli, Kabupaten Luwu Timur,” tambah Nasrol. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kondisi cuaca di satu lokasi yang mungkin tidak mendukung.
Hasil dari seluruh titik pemantauan ini nantinya akan dihimpun dan dilaporkan secara berjenjang ke Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H. (Leony amparita)











