Nabi Yusuf A.S, Menteri dan Arsitek Ketahanan Pangan :   Melihat Pangan Indonesia Saat Ini. 

Opini0 Views

Muliadi Saleh

Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Ada pemimpin yang menunggu datangnya  krisis, ada yang membacanya sebelum tiba. Nabi Yusuf AS memilih yang kedua.  Ia menafsir mimpi, lalu menata masa depan. Dalam Surah Yusuf, tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus bukan sekadar simbol, melainkan peta waktu.  Tujuh tahun berlimpah, tujuh tahun kekeringan. Yusuf tidak berhenti pada tafsir. Ia merancang kalender musim dan disiplin mengikutinya. Menyimpan saat panen, menahan diri saat berlimpah.

Ia mengubah isyarat langit menjadi kebijakan bumi

Nabi Yusuf AS berdiri di antara keduanya dengan mengubah mimpi menjadi sistem, isyarat menjadi kebijakan, dan masa depan menjadi sesuatu yang bisa disiapkan, bukan ditakuti.

Ketika raja bermimpi tentang tujuh yang gemuk dilahap tujuh yang kurus, Yusuf tidak sekadar menafsirkan. Ia menatanya. Menahan diri di musim subur agar selamat di musim lapar. Tafsirnya bukan retorika spiritual, tetapi desain ketahanan pangan yang bahkan hari ini masih terasa modern.

Kini, berabad-abad setelah itu, pemerintah yang diorkestra oleh Menteri Pertanian,  Andi Amran Sulaiman tidak lagi membaca mimpi. Pemerintah membaca dan menganalisis data. Membaca fenomena dan ketidakpastian,  menyusun rencana,  merancang aksi dan mengontrol seluruh aktivitas kementerian pertanian.

Dan data Indonesia hari ini berbicara cukup lantang.

Berdasarkan rilis terkini yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik, stok beras di gudang Perum Bulog telah mencapai sekitar 4,3 hingga 4,7 juta ton pada Maret–April 2026, tertinggi sepanjang sejarah.

Bahkan dalam proyeksi cepat, angka itu diperkirakan menembus 5 juta ton—sebuah capaian yang dulu terasa jauh dari jangkauan.

Lebih dalam lagi, struktur ketahanan itu tidak berdiri di satu kaki.

Total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 27,99 juta ton, cukup untuk lebih dari 10 bulan kebutuhan nasional (±324 hari).

Produksi pun melampaui konsumsi: 2,6–5,7 juta ton per bulan, di atas kebutuhan sekitar 2,59 juta ton.

Di sinilah prestasi itu menemukan maknanya.

Ini bukan sekadar angka—ini adalah tanda bahwa negara sedang belajar menunda kenikmatan demi keberlanjutan.

Di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman, kebijakan pangan bergerak setidaknya pada tiga sumbu:

meningkatkan produksi, memperkuat serapan dalam negeri, dan menebalkan cadangan.

Hasilnya signifikan. Stok melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding 2024, inflasi beras lebih terkendali, dan harga gabah petani tetap terjaga di atas ambang kebijakan.

 

Di balik angka itu berdiri kerja besar yang diorkestrasi oleh Andi Amran Sulaiman. Lebih dari 115 juta petani menjadi simpul-simpul kehidupan yang harus dijaga ritmenya dari sawah hingga lumbung, dari hujan hingga harga.

Di sinilah perbandingan menjadi penting. Bukan untuk menyamakan, tetapi untuk memahami skala.

Mesir pada masa Yusuf tidak menghadapi kompleksitas seperti Indonesia hari ini. Kita berbicara tentang negeri dengan hampir 280 juta jiwa, kepulauan luas, distribusi yang menantang, dan pasar yang mudah bergejolak. Mengelola pangan di sini bukan sekadar menyimpan, tetapi menyelaraskan jutaan kepentingan dalam satu napas kebijakan.

Nabi Yusuf tidak hanya membangun lumbung. Ia menutup kemungkinan kebocoran. Ia tahu, krisis terbesar bukan saat paceklik datang, tetapi saat manusia gagal mengendalikan diri di tengah kelimpahan.

Di titik ini, analogi itu menemukan bentuknya.

Nabi Yusuf membaca mimpi sebagai peringatan masa depan.

Mentan membaca data sebagai peringatan yang sama.

Yusuf menyimpan gandum dalam bulir agar tidak rusak oleh waktu.

Mentan menyimpan beras dalam gudang agar tidak runtuh oleh pasar dan geopolitik.

Yusuf menjaga Mesir dari kelaparan tujuh tahun.

Mentan berusaha menjaga Indonesia dari ketidakpastian global berbulan-bulan ke depan.

 

Maka, jika Nabi Yusuf adalah menteri yang membaca langit untuk menyelamatkan bumi,

maka hari ini, Menteri Pertanian melakukan hal yang relatif sama.

Membaca angka seperti membaca takdir,

dan menjaga lumbung seperti menjaga amanah.

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukan soal berapa juta ton yang tersimpan, melainkan seberapa jujur kita menjaganya agar tetap utuh saat dibutuhkan.

___________

Muliadi Saleh:

“Menulis Makna, Membangun Peradaban”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *