Produksi Melimpah, Pupuk Indonesia Siap Ekspor Urea ke 4 Negara

SENATORNEWS.ID, JAKARTA — Di tengah gangguan rantai pasok pupuk global, Indonesia justru berada di posisi menguntungkan.

Produksi urea nasional yang melimpah membuat PT Pupuk Indonesia (Persero) siap menembus pasar ekspor, dengan empat negara telah menyatakan minat untuk menyerap pasokan—tanpa mengorbankan kebutuhan petani dalam negeri.

PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya untuk mendukung rencana pemerintah dalam memperluas ekspor pupuk urea ke pasar global. Namun, langkah tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan memastikan pasokan domestik dalam kondisi aman.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menekankan bahwa kebijakan ekspor mengikuti arahan pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

“Kan memang arahan dari Kementerian Pertanian sudah jelas, bahwa kita baru akan ekspor saat kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/4/2026).

Menurut Rahmad, kesiapan industri pupuk nasional saat ini berada pada level yang sangat baik, baik dari sisi produksi maupun ketersediaan pasokan. Dengan kapasitas besar yang dimiliki, Indonesia dinilai mampu mengambil peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk global.

Ia menilai, gejolak geopolitik dunia yang memicu terganggunya distribusi pupuk justru membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil sebagai pemain penting di pasar internasional.

“Banyak orang berpikir bahwa di tengah gejolak global, posisi kita akan rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk, posisi kita bukan rentan, tapi justru bisa tampil sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Kita justru bisa bantu negara-negara lain yang membutuhkan pupuk,” ujar Rahmad.

Sejumlah negara telah menyatakan minat untuk mengimpor urea dari Indonesia, di antaranya Australia, India, Filipina, dan Brasil. Permintaan tersebut muncul sebagai respons atas terganggunya jalur distribusi global, termasuk akibat dinamika di Selat Hormuz.

Meski peluang pasar terbuka lebar, perusahaan menegaskan ekspor tidak akan dilakukan secara gegabah. Prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan petani dalam negeri, terutama pada periode krusial seperti musim tanam.

“Jadi kami tidak mungkin juga melakukan (ekspor) saat musim tanam. Itu sudah kami sampaikan juga ke perwakilan dari India dan lain-lain, dan bisa dipahami bahwa kami hanya akan ekspor di luar musim tanam,” tegas Rahmad.

Dari sisi produksi, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan domestik yang berkisar antara 6 hingga 7 juta ton. Kelebihan kapasitas ini menjadi peluang untuk menggarap pasar ekspor tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.

Kondisi tersebut diperkuat oleh ketersediaan bahan baku gas alam domestik yang terjamin, baik dari sisi volume maupun harga, sehingga menjaga stabilitas produksi nasional.

Selain itu, stok pupuk nasional juga berada pada level yang aman. Hingga pertengahan April 2026, cadangan pupuk tercatat sekitar 1,2 juta ton, ditopang oleh produksi harian yang terus berjalan optimal.

“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” jelas Rahmad.

Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga keterjangkauan pupuk bagi petani melalui kebijakan stabilisasi harga. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi bahkan telah diturunkan sebesar 20 persen sejak Oktober 2025.

Rahmad memastikan, meskipun harga pupuk di pasar global mengalami fluktuasi, harga pupuk subsidi di dalam negeri tetap dijaga agar tidak memberatkan petani.

“Pemerintah melalui Kementan sudah menegaskan bahwa HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya, ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” ujarnya.

Dengan kombinasi produksi yang kuat, stok melimpah, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani, Indonesia kini berada pada posisi strategis—tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berpotensi menjadi penopang pasokan pupuk di tingkat global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *